“Seseorang kehilangan kontak dengan kenyataan bila tidak dikelilingi buku-bukunya.”
[Francois Mitterand, Presiden Prancis, 1982]
Para kutubuku memiliki “penyakit aneh”, atau semacam “gangguan mental” yang sulit disembuhkan. Saya tidak tahu apakah penyakit aneh ini memang menghinggapi semua kutubuku, ataukah hanya sebagiannya saja. Namun, sejauh yang saya tahu, para kutubuku yang saya kenal memang mengidap penyakit aneh atau gangguan mental yang satu ini.
Penyakit aneh atau gangguan mental yang saya maksudkan ini adalah semacam perasaan cinta yang amat kuat, hingga sampai pada tahap obsesif yang tak dapat dipahami akal sehat.
Salah satu kutubuku hebat yang terkenal di negeri ini adalah Mohamad Hatta, wakil presiden pertama Indonesia. Siapapun tahu, Bung Hatta adalah pelahap buku yang amat rakus. Kemana pun dia pergi ke sebuah negara, tempat pertama yang akan dicari dan dikunjunginya adalah toko buku. “Buku adalah temanku,” kata Hatta, “selama aku memiliki buku, aku dapat tinggal di mana saja.”
Sebegitu cintanya Hatta pada buku, sampai-sampai ada sebuah anekdot yang sering digunakan oleh Soekarno untuk mengolok-olok Hatta. Tidak ada yang tahu apakah anekdot ini fakta atau hanya karangan Bung Karno sendiri, tetapi yang jelas presiden pertama Indonesia itu sering mengolok-olok wakilnya dengan kisah ini.
“Suatu sore,” begitu cerita Bung Karno, “Hatta berada di sebuah angkutan umum dalam suatu perjalanan. Hanya ada dua penumpang—Hatta dan seorang gadis cantik yang tak dikenalnya. Di suatu tempat yang sepi, ban kendaraan pecah. Si sopir melepas ban yang pecah itu, kemudian pergi untuk menambalkannya ke tempat yang terdekat. Hatta dan si gadis cantik tetap menunggu di dalam kendaraan. Dua jam kemudian, si sopir kembali—dan dia mendapati si gadis cantik tertidur lelap dalam jarak yang begitu jauh dari Hatta yang sedang asyik membaca buku!”
Tidak pernah jelas apakah kisah di atas itu memang benar-benar terjadi, ataukah hanya rekaan Soekarno untuk mengolok-olok sahabatnya. Hanya saja, ada satu kisah yang benar-benar nyata, yang juga menunjukkan bagaimana kecintaan Hatta yang luar biasa terhadap buku. Kisah ini terdapat dalam buku “Bung Hatta: Pribadinya dalam Kenangan” (1980).
Hari itu, salah satu keponakan Hatta datang ke rumahnya. Si keponakan ini bernama Hasyim Ning. Di rumah Hatta, Ning meminjam salah satu buku milik Hatta untuk dibacanya. Hatta mengijinkan, dan Ning pun membaca buku itu dengan asyik.
Ketika kemudian buku tersebut dikembalikan, Hatta melihat salah satu halaman buku itu ada yang terlipat. “Kau yang melipat halaman buku ini?” tanya Hatta pada si keponakan.
“Iya,” jawab Ning. “Tadi, itu sengaja saya lipat untuk menandai halaman yang sudah saya baca.”
Bagi “orang biasa”, mungkin jawaban Hasyim Ning di atas itu akan diterima dengan biasa, dengan lapang dada. Melipat halaman buku yang sedang dibaca adalah suatu hal yang amat wajar. Tetapi tidak bagi seorang kutubuku sejati seperti Hatta. Begitu mendengar jawaban itu, Hatta benar-benar marah. Dia bahkan meminta keponakannya untuk mengganti buku itu, karena Ning telah “memperlakukan buku itu dengan cara yang tidak semestinya”.
Sore hari, dengan tubuh yang letih setelah kepanasan dan pergi kesana-kemari mencari buku, Ning kembali ke rumah pamannya dengan tangan hampa. Buku yang dicarinya tidak dapat ditemukannya , dan ia pun sudah bersiap menerima kemarahan pamannya, Tetapi Hatta hanya tersenyum. Baginya, keponakannya telah mendapatkan hukuman atas kesalahannya. Ketika Ning akhirnya kembali dan tak berhasil menemukan buku pengganti, Hatta berkata, “Perlakukanlah bukumu sebagaimana kau memperlakukan benda-benda sakral.”
Apakah orang yang mengidap “penyakit aneh” semacam itu hanya Hatta? Tidak, karena ternyata para kutubuku lainnya pun mengidap penyakit yang sama—baik di zaman dulu, ataupun di zaman sekarang.
Muhidin M. Dahlan, salah satu pendiri penerbit Indonesia Buku, memiliki semacam “penyakit aneh” atau “gangguan mental” karena kecintaannya yang amat besar kepada buku.
Di rumahnya, dia mengoleksi banyak buku. Dia lebih suka dengan buku-buku tebal, yang dapat berdiri kukuh karena disangga hardcover. Nah, kalau sedang iseng, dia suka menumpuk buku-bukunya yang tebal itu hingga berdiri menjulang, kemudian dipandanginya sendiri dengan takjub.
Bila merasa kurang cukup dengan memandanginya saja, dia pun akan memotret tumpukan buku-buku itu dari berbagai sudut. Setelah itu dia akan memandangi tumpukan buku-bukunya itu kembali, sambil berdecak-decak sendiri seperti orang gila.
Jadi..Mulailah membaca buku…
Perpustakaan Institut Bisnis dan Informatika Indonesia
Jl.Yos Sudarso Kav.87 Sunter Jakarta Utara
Telp (021) 65307062
Email : perpustakaan@ibii.ac.id/perpustakaanibii@yahoo.com
Filed under: Artikel














